Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.
Menjalani peran sebagai Trainer Pendidikan Kader Jenjang Dasar AMGPM (Penulis menyebutnya sebagai "Mitra Belajar Kader") menjadi suatu pengalaman menarik sekaligus menakjubkan. Bagaimana tidak, dengan mempraktekkan peran-peran teknis dalam sosok seorang pelatih, dengan serta-merta dan mudah diperoleh beberapa penguatan fondasi diri yang penuh manfaat.
Secara Psikologis, berdiri di hadapan Kader akan merangsang self confidence (kepercayaan diri) serta mengoptimumkan self actualisation (rasa aktualisasi diri). Selain itu punya kesempatan untuk lebih dalam berinteraksi dan mencari jalan keluar dari referensi-referensi berorganisasi yang dibahas melalui materi, yang artinya seorang Trainer menjadi lebih kaya olrh khasanah pengetahuan baik teoritis maupun aplikatif dibanding kader pada umumnya. Belum lagi, melalui pengalaman men-training kader, memperjumpakan Pelatih dengan berbagai ragam metode belajar efektif selain mahir dan objektif melakukan penilaian proses kelas dan hasil yang hendak dicapai.
Ini jelas kesempatan yang banyak orang ingin alami namun tidak semuanya dapat meraih kesempatan itu. Artinya pula, menjadi Trainer adalah menjalani peran istimewa, educational dan prestigious (bergengsi).
Cukupkah sampai di situ? Rasanya tidak! Bersamaan dengan status dan peran (yang dalam pandangan Penulis terbilang extraordinary), terletak tanggungjawab untuk memprospek suasana, proses dan keluaran belajar kelas atau pelatihan dimana seluruh kader peserta merasa penting, berarti dan juga istimewa, seistimewa Trainer itu sendiri.
Kenapa demikian? Karena eksistensi kelas yang pesertanya merasa dihargai dan diutamakan akan memungkinkan penyampaian materi berlangsung secara baik dan diserap secara optimal.
Begitu fundamentalnya kebutuhan akan rasa penting, istimewa dan berarti, mendasari Abraham Maslow merumuskan secara teoritis "Hierarkhi kebutuhan manusia, antara lain: kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri."
Dari konsep Maslow ini, dapat disimpulkan tiap orang (bahkan yang paling rendah hati sekalipun) dalam hidupnya membutuhkan "perasaan dianggap penting, berarti atau istimewa". Ini perwujudan kebutuhan mendasar tiap orang.
Bagaimana cara sederhana menginjeksi perasaan dianggap penting, berarti dan istimewa kepada kader peserta PKJD?
Langkah awal membuat seseorang merasa dirinya penting adalah "dengan mengingat namanya".
Kita mungkin menganggap hal ini sepeleh tetapi para Trainer dan Motivator besar dan terkenal selalu menjadikan teknik ini sebagai andalan. Bahkan di dunia manajemen marketing, semua marketer sukses menggunakan cara ini untuk mendapatkan hasil membangun daya tarik, kesetiaan dan fanatisme konsumen pada suatu merek.
Dalam logika yang kurang lebih setara, sesungguhnya memprospek kader melalui PKJD memiliki hakikat marketabilitas organisasi sehingga diminati oleh Pemuda Gereja.
Pentingnya mengingat nama dan hubungannya dengan hasil yang akan didapat, bisa meminjam quote dari Dale Carnegie yang berbunyi:
"A person's name is to that person the sweetest and the most important sound in any language" (nama seseorang bagi dirinya sendiri adalah bunyi yang paling manis dan paling penting dalam bahasa apapun)
Coba saja teman-teman Trainer bayangkan, jika dalam suatu kesempatan, ada seseorang yang penting dan terhormat di mata publik tiba-tiba menyapa nama teman-teman di hadapan orang lain, tidakkah itu akan memantik perasaan penting, dihargai dan istimewa dalam diri? Itu fakta psikologis yang tidak dapat kita bantah.
Begitu pula, akan dirasakan oleh para kader peserta PKJD ketika sebagai Trainer/profil trendsetter/icon/patron, teman-teman Trainer mengingat dan menyapa mereka dengan mengetahui persis namanya.
Penulis ingin menutup tulisan singkat ini dengan suatu pandangan yang memotivasi, bahwa: "Dikala PKJD kini telah menjadi perimeter, suatu garis benteng pertahanan kaderisasi Dapua, tak dapat diingkari bahwa teman-teman Trainer's adalah penentu hari esok Dapua."
Mari terus mentransfer nilai-nilai hidup dalam karya-karya berkader.
TUHAN MEMBERKATI TEMAN-TEMAN.