Thursday, January 30, 2020

PEMEKARAN (AMGPM CABANG PANCARAN KASIH) DALAM GRADASI TINGKAT KEPENTINGAN

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.

Dalam beberapa hari ini, frekwensi percakapan pelayanan di AMGPM Daerah Pulau Ambon kuat diisi oleh isu kriteria teknis pemberian Dapua Award kepada Cabang berprestasi, rencana pelaksanaan MPPD-XXXII yang akan berlangsung di Cabang Hermon Jemaat GPM Kezya, rencana pelaksanaan Pelatihan Kader Jenjang Menengah (PKJM) serta beberapa isu organisasi lainnya. Diantara banyak isu, ada salah satu yang cukup kuat menonjol yakni rencana pemekaran AMGPM Cabang Pancaran Kasih menjadi Cabang Pancaran Kasih dan Cabang Bukit Zaitun. Sebagai catatan informatoris, sejal dimekarkan dari AMGPM Cabang Nehemia pada 28 Nopember 2002, kini AMGPM Cabang Pancaran Kasih memiliki wilayah pelayanan yang meliputi 5 (lima) Ranting di Jemaat GPM Pancaran Kasih dan 3 (tiga) Ranting di Jemaat GPM Bukit Zaitun.

Kembali ke pokok wacana pemekaran, sesungguhnya pemekaran suatu organisasi, terutama yang perspektif wilayahnya teritorik, adalah kenischayaan, termasuk bagi AMGPM di berbagai strata kelembagaan. Dalam konteks pemekaran cabang Pancaran Kasih menjadi rencananya Cabang Pancaran Kasih dan Cabang Bukit Zaitun, minimal mengandung tujuan efisiensi pelayanan dan perluasan pembinaan dan pengembangan kader, selain maksud lain yang bersifat konstitusional, administratif dan psikologi organisasi.

Meski memandang pada hal ikhwal kenischayaan yang melatari suatu pemekaran, adalah patut manakala rencana pemekaran ditempatkan pada spektrum yang sungguh-sungguh jelas sehingga pada ujungnya sanggup menjawab pergumulan tujuan.
Ini wajib untuk dikemukakan karena ketika AMGPM Dapua bercermin pada dua momentum pemekaran Cabang, masing-masing Pemekaran Cabang Rehoboth II menjadi masing-masing Cabang Rehoboth II dan Cabang Eden, begitu pula pemekaran Cabang Elim II menjadi Cabang Elim II dan Cabang Elim V. Dua pemekaran ini meninggalkan residu kronik yang cukup berdampak bagi organisasi, kader dan pelayanan. Tepatnya, sejak dimekar tiga tahun lalu, Cabang Elim V dan Cabang Rehoboth II terperosok mengalami ineksistensi. Kendalanya beragam tetapi pada intinya mobilitas organisasi pada level struktural Cabang benar-benar terhenti. Cabang Rehoboth II rusak pada teritorial pelayanan sementara Cabang Elim V rusak pada spirit melayani. Memang variabel penyebabnya tidak tunggal karena ada pula indikator problematik lain yang menyertainya.

Serius mempelajari dua kejadian tersebut,  pengkritisan atas rencana pemekaran Cabang Pancaran Kasih perlu diletakkan dalam gradasi tingkat kepentingan yang mendasar dan tidak sekedar mencetak landmark historis dan dimaksudkan untuk membesarkan nama-nama tertentu, namun sungguh-sungguh didasati untuk semurni-murninya efisiensi pelayanan dan perluasan distribusi kader. Sambil memetakan secara komprehensif segala kemungkinan yang bisa menjebak salah satu dari Cabang Pancaran Kasih atau Calon Cabang Bukit Zaitun hingga berakhir persis Cabang Rehoboth II ataupun Cabang Elim V.

Sejauh ini, dalam pandangan beta, pemekaran adalah penting. Kenapa demikian? karena pemekaran mempunyai dalam dirinya, arti atau makna, nilai serta dampak, dan semua itu atas nama pelayanan dan pengkaderan.

Namun demikian, apa yang beta pandang penting ini perlu pula didudukkan pada kasifikasi menurut tingkat gradasi kepentingannya. INI YANG MENENTUKAN URGENSI (kemendesakkan) DIBALIK PEMEKARAN.
Dari sana ada empat konsep kunci yang selanjutnya beta gunakan mengukur skala kepentingan pemekaran AMGPM Cabang Pancaran Kasih, yaitu:
1. Penting dalam pengertian "Important";
2. Penting dalam pengertian "Essential";
3. Penting dalam pengertian "Crucial", dan;
4. Penting dalam pengertian "Vital."


Important.
Important dalam bahasa Indonesia artinya "penting". Namun sifat kepentingannya cenderung bermakna umum dimana tuntutan pemenuhannya tidak dibatasi waktu dan resiko momentum. Artinya aspek kepentingannya tidak dibatasi atau ditekan oleh urgensi tertentu.

Ditempatkan dalam perspektif important, Pemekaran tentulah penting sebagaimana keberadaan disiplin waktu beribadah, pengintensifan komunikasi kemitraan Cabang dengan kedua Jemaat, memaksimalkan fungsi pengurus bidang untuk mengimplementasi program, dan lain-lain.
Dalam hal ini, jika contoh-contoh diatas tidak atau jarang diintensifkan maka tidak langsung menimbulkan resiko atau dampak langsung yang mematikan pelayanan. Itu alasannya, important dipandang merupakan level paling rendah dalam gradasi tingkat kepentingan. Dengan demikian bila pemekaran Cabang Pancaran Kasih bersifat important maka hal itu perlu tapi tidak urgent saat ini. Lalu jika demikian apa yang urgent? Lagi-lagi bila argumentasi ini dikonversi kedalam pertanyaan, "Apakah bila pemekaran Cabang Pancaran Kasih belum segera dilakukan, akan berdampak serius dan mematikan pelayanan di Ranting-Ranting tertentu?
Beta anggap hikmat dapat menjawabnya dengan sangat bijak, meski beta akan dengan lantang mengatakan mari benahi dulu variabel-variabel fondasionalnya.


Esensial.
Dikategorikan sesuatu yang penting sebagai esensial manakala benar-benar "mendasar" dan "diperlukan" dibanding beberapa keperluan lain. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa dalam banyak hal yang penting (dalam pengertian important) beberapa hal secara khusus dianggap dan dilihat sangat penting dari yang lain. Jadi, ada semacam gradasi. Esensial satu level lebih tinggi dari important.

Misalnya dari Pemekaran Cabang yang dipandang penting, dapatlah diandaikan bahwa masih ada hal lain yang lebih penting darinya yakni persoalan memperkuat akar komitmen, kesetiaan pelayanan dan kecakapan berorganisasi pada level tiga ranting sehingga dalam suatu masa tertentu tersedia resources pemuda Gereja di Jemaat Bukit Zaitun yang mampu memperkuat Ranting (secara kuantitatif dan kualitatif) serta memiliki sumber daya lebih kader yang siap mengelola ketiga ranting.
Impac dari penerapan formula ini menghasilkan kader-kader bagus secara kuantitatif untuk mengelola Cabang. Dari situlah baru dipikirkan pentingnya suatu proses pemekaran Cabang melalui level kerja teknis Pengurus Cabang.
Ataupun jika tetap bersikukuh pada penilaian pentingnya pemekaran dibanding penguatan lebih dulu ketiga Ranting maka mungkin, yang jadi esensi dari rencana pemekaran Cabang itu justru perbincangan rekomendasi dan perumusan kertas kerja (proposal) rencana pemekaran, dan bukan proses pemekaran itu sendiri.
Maka pada domain pikiran ini, tidakkah akan lebih bijak bila berorientasi secara esensial pada penguatan 3 ranting lebih dulu? Atau membatasi percakapan hanya pada tahapan perumusan proposal pemekaran? Tiap-tiap kita dipersilahkan untuk menilai. Tapi terlepas dari pandangan penting sebagai esensial, pendudukan perangkat mekanisme konstitusial adalah kewajiban tak terbantahkan yang harus mendahului prosesi pemrkaran Cabang.


Krusial.
Kategori makna Penting yang penggunannya  dianggap, lebih dari important dan essential adalah crucial. Dipandang demikian karena dianggap 'amat sangat' penting. Lebih dari itu ada pembeda lain yakni nuansa makna yang tidak dimiliki tiga kata lainnya, yakni "decisive". Maksudnya, sesuatu itu dikatakan krusial ketika itu MENENTUKAN SECARA TEGAS suatu keberhasilan.

Di sini kita bisa bangun pertanyaan; Apakah yang menentukan dari atau bagi masa depan pelayanan dan pembinaan pemuda gereja di jemaat Bukit Zaitun? Mungkin jawabannya adalah pemekaran Cabang. Jawabannya terhenti di situ? Atau bisa makin didalami dengan pertanyaan; apakah yang menentukan dari atau bagi pemekaran Cabang? Mungkin jawabannya adalah penyiapan sumber daya manusia dan pemenuhan tahapan mekanisme aturan. Lalu? Terhenti lagi? Atau bisa didalami lebih jauh dengan pertanyaan; apakah yang menentukan dari atau bagi penyiapan sumber daya manusia dan pemenuhan tahapan mekanisme aturan? Jawabannya bisa makin panjang.
Artinya dari sisi penting sebagai krusial, ternyata pokok hal pemekaran Cabang tidak merupakan desisi utama. Ada beberapa hal lain yang harus lebih dulu dipenuhi sebelum tiba pada pemekaran cabang. Argumen ini tidak menggugurkan makna penting pada pemekaran cabang melainkan meletakkannya pada aspek kemendesakkannya yang jika dibedah dengan perspektif krusial menunjuk gejala tidak terlalu kuat.


Vital.
Spektrum terakhir dari tingkat gradasi kepentingan yang dibahas tulisan ini adalah penting sebagai Vital.
Sesuatu dipandang penting dalam perspektif vital adalah ketika sesuatu itu mendukung kehidupan atau sangat penting bagi kelangsungan keberadaan sesuatu yang lain.

Meminjam penjelasan istilah versi KBBI, kata "vital" didefinisikan ’sangat penting untuk kehidupan’. Menurut kamus Oxford kata "vital" disejajarkan dalam makna 'absolutely necessary; essential, indispensable to the continuance of life (mutlak perlu, tidak bisa tidak diperlukan untuk kelangsungan hidup). Sebagai contoh, dalam bahasa aslinya kita kenal 'vital organ' atau 'organ vital' manusia. Membaca istilah ini, jika pikiran kita tidak lebih dulu disesatkan oleh eufemisme alat kelamin (yang ternyata biasnya sangat signifikan) maka kita tahu yang dimaksud adalah lima organ tubuh terpenting manusia yaitu; otak, jantung, paru-paru, ginjal dan hati.

Dalam logika penerapan pelayanan dan pembinaan pemuda gereja di jemaat GPM Bukit Zaitun, dapat kita tengarai bahwa Ibadah, Pendidikan kader (utamanya pada PKJD dan atau PKJM), optimalisasi fungsi struktur pada Job, serta koordinasi organisasi lintas Ranting, Cabang, Daerah dan Jemaat, kiranya merupakan tindakkan vital yang sungguh diperlukan saat ini dibandingkan Pemekaran Cabang. Sekali lagi dengan pandangan bahwa Pemekaran Cabang tetap merupakan gumulan yang menentukan masa depan organisasi dan pelayanan di Cabang Pancaran Kasih dan ketiga Ranting dalam Jemaat GPM Bukit Zaitun.

Kesimpulan sebagai penutup tulisan ini mengafirmasi bahwa sekalipun pemekaran AMGPM Cabang Pancaran Kasih mengandung kepentingan tertentu yang secara positif dimuarakan kepada optimalisasi pelayanan pemuda Gereja di Jemaat GPM Bukit Zaitun Klasis Pulau Ambon, ternyata dalam gradasi tingkat kepentingannya belumlah menyentuh urgensi yang sungguh-sungguh kuat. Bahwa hal itu penting, iya tapi apakah harus sesegera mungkin dilakukan dalam satu atau dua bulan ke depan, rasanya belum terlalu mengandung dimensi kegentingan yang memaksa.

Sebab itu, saran beta, mari kita mulai rangkaian bagi proses pemekaran Cabang melalui penyiapan dan penataan sejumlah aspek yang berkorelasi lainnya, mulai dari penyiapan sungguh-sungguh sumber daya manusia di ketiga Ranting dalam Jemaat Bukit Zaitun, menguatkan komitmen dan loyalitas seluruh stakeholders dan stakeowners di ketiga Ranting yang masih berusia sangat muda sehingga pijakkan Ranting menjadi kokoh untuk melintas di rentang panjang sejarah pelayanan, persekutuan dan penginjilan ke depan. Selain itu, menyiapkan tiap tahap administratif konstitusional yang menjadi rujukkan terjadinya pemekaran cabang.
Ini perlu disampaikan karena dalam kondisi Ranting yang sungguh-sungguh masih belia, dibebani oleh hadirnya Cabang yang bayi, rasanya mengandung resiko yang tidak dapat dipandang remeh. Sekali lagi, uraian panjang pengalaman pemekaran Cabang Rehoboth II dan Cabang Elim II adalah teladan yang perlu dihayati bersama. Obsesi itu baik tapi berhati-hatilah terhadap ambisi apalagi ambisius.
Semoga!
-------------------------

Monday, January 27, 2020

"GETIR MENGGETAR"

Kau, yang "Bonus Kasih yang dari Tuhan", mengapa seakan hadirmu kini menebar duri? Menikam dalam dan membawa perih? Mengoyak hancur yang sedang tersusun!

Bukankan senyatanya dari senyummu memancar bahagia bertabur kemilau sempurna, mengapa denyut-denyut seringainya seakan tak menyentuh kami kini?

Kau cinta dan kerinduan bagi-nya!
Bahkan kaulah kepantasan-nya! menyebut diri rahim yang diberkati!.
Namun bila denganmu hari-hari-nya! menggenggam gempita, akulah yang terpuruk dihadang sendu dan kehilangan jalan.

Aku, hampa kini!
Memupuskan "ada" dalam ketiadaan ‌pengabdian yang kian terus meluruh, seakan dikutuk oleh ketegaran yang menari-nari menuding dalam jasa dan pengorbanan.

Hempaskanlah saja "ada" yang tentangku, agar Dia! Melangkah penuh keyakinan pada hari-hari yang terus berlanjut. 
Dan aku bisa tenang tertunduk mendalam dalam pasrah bahagia.

Kau,...
Kau memang tidak bersalah, sedikitpun tidak!
Sebab memandangmu saja aku insaf tentang "Bonus Kasih yang dari Tuhan."
---------------------------------
Pasalbessy Hendry N.
Ambon, Selasa, 21 Januari 2020.

Monday, January 13, 2020

"ADVOCATUS DIABOLI; Belajar Melalui Perkenalan Istilah Dari Seorang Sahabat."

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy



PENGANTAR ISI
Beberapa hari lalu, kami berjumpa setelah hampir setahun tidak bertemu (Penulis dan salah seorang sahabat). Momen yang sekaligus lepas kangen kami, banyak diisi percakapan pada pokok-pokok tema lepas yang saling menyalib. Satu tema diinterupsi tema lainnya bagai hendak menumpahkan seluruh isi pikiran yang tertahan berkelindan. Maklum, lama tidak berjumpa, --setidaknya untuk perbandingan frekwensi pertemuan intensif yang pernah berlangsung di waktu-waktu sebelum ini yang kerap kami isi dengan diskursus wacana aktual sehari-hari yang sangat beragam.

Hal baru Penulis dapati sebagai bentuk subtitusi pengetahuan manakala mendengar istilah "Advocatus Diaboli" meluncur tepat disela tanding dialog kami. Istilah itu bahkan ditegaskan ulang dalam Notifikasi WhatsApp pada beberapa hari berselang. Apa yang Penulis sebut sebagai "rasa penasaran akademis" pun terpantik dengan efek vibrasi kuat, hingga melandasi upaya pencarian arti. Hasrat keingintahuan dari balik rasa penasaran akademis ini menjadi terasa penting untuk digubris mengingat dalam ziarah pengetahuan pribadi sejauh ini, diakui bahwa istilah "Advocatus Diaboli" belum terkonsumsi alam sadar penulis hingga pada titik dimana istilah itu terdengar dan terbaca melalui dialog dengan Sahabat Penulis dimaksud.

Masih di sekitar peristiwa resepsi dialog, ketika mendengar dan membaca istilah berlatar historis khusus tersebut, sesaat Penulis terjebak pikiran spekulatif menyangkut arah maknanya. Spekulasi itu makin signifikan membingungkan bila diusung ke dalam gerilya perspektif dan konseptual Penulis.
Mulailah Penulis mengorientasikan energi, fokus dan waktu guna melacak literatur sumber, terutama pada daftar indeks dan bibliografi beberapa buku filsafat dan Sosiologi Agama yang ada di rak buku Penulis, dan menemukan penjelasannya.

Ternyata hanya sedikit yang bisa Penulis dapati dari literatur yang ada. Meski demikian dari sanalah "Advocatus Diaboli" menyinari perspektif dan pemahaman Penulis. Bertambah lagi satu spektrum pencerahan dari cahaya bernama "pembela setan", mulai dari pengertian istilah, sejarah awal pemakaian serta tujuan intrinsiknya.


ISTILAH DAN PENGERTIAN.
"Advocatus Diaboli" menunjuk dua kata masing-masing "advocatus" dan "diaboli." Yang bila di transfer ke dalam bahasa Indonesia kata per kata, melahirkan; "pembela setan". Tentu saja yang menjadi pokok persepsi dan argumentasi bukanlah setan dalam pengertian sebenarnya, melainkan suatu penetapan posisi di tengah dialektika peradilan dengan mengambil pilihan berbeda atau antagonik, dimana secara progreasif, pengelolaan posisi itu disumbangkan guna akhir yang mulia, baik dan berguna.


SEJARAH AWAL PEMAKAIAN
Muasal istilah "advocatus diaboli" bersumber pada praktek kanonisasi. Pasal historisnya berpangkal dari suatu posisi resmi di Gereja Katolik, di mana seorang pengacara kanon (advokat setan) berpraktek menentang kanonisasi (santo) dari seorang kandidat guna mengungkap kelemahan karakter atau berusaha membuktikan kesalahpahaman mendukung kanonisasi". Mereka yang dikenal dengan istilah lain sebagai "promotor iman" ini tampil untuk menyampaikan argumentasi berlawanan dengan cara menggali dan menguji secara argumentatif kualifikasi serta berusaha membuktikan ketidaklayakan seseorang (kandidat) atas gelar santo.


TEKNIK PENERAPAN PERAN
Implementasi peran promotor iman atau pembela setan atau pemeran advocatus diaboli, dapat diidentifikasi dari beberapa sudut:
-. Mengambil Posisi berseberangan/tidak setuju terhadap argumen umum dengan maksud mengeksplorasi pemikiran lebih lanjut.
-. Diterapkan dalam wujud dramaturgi (main peran) konflik. Karena itu, melibatkan orang lain.
-. Bertujuan menguji kualitas argumen asli,  mengidentifikasi kelemahan dalam strukturnya dan menggunakan informasi tersebut untuk perbaikan atau guna meninggalkan keaslian, serta posisi menentang.
-. Diterapkan sebagai bagian dari proses pencarian objektivitas.
-. Cara ini (penugasan seseorang sebagai advocatus diaboli) tak jarang digunakan sebagai ‘tehnik diskusi’ agar peserta diskusi tetap dalam perspektif sehingga perdebatannya konstruktif.


PENUTUP
Maka, sebuah imperatif etik di balik penerapan "advocatus diaboli" adalah bahwa Kanonisasi dan penetapan Santo tidak boleh eksklusif apalagi “masa bodoh” terhadap kemuliaan yang menyertai tanggungjawab yang dipikul Santo/Santa, tapi selalu terbuka dan membuka diri terhadap realitas dan harus membuka tabir kegelapan hidup yang disebabkan oleh banyak faktor termasuk eksklusifitas diri dan hegemoni tertentu.
Selain itu tugas mulia para pemeran "advocatus diaboli" diantaranya juga karena harus mengadvokasi umat dan membela hak dan kepentingan mereka dari berbagai bentuk subordinasi sistem yang dapat saja koruptif dan kolutif dalam penetapan status Santo/Santa.
-------------------------------