Sunday, November 17, 2019

34 TAHUN AMGPM CABANG IMANUEL OSM: DEWASA, MATANG DAN BERPRESTASI.


Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.

Hari ini, (16 Nopember 2019), di gedung Gereja Imanuel OSM sedianya akan berlangsung ibadah syukur Ulang Tahun AMGPM Cabang Imanuel OSM yang ke-34. Momentum yang mendasari tulisan ini.

Dibuatnya tulisan ini adalah edisi penebusan dari tidak dapatnya Penulis menghadiri dan memberikan sambutan dalam status sebagai Ketua Pengurus AMGPM Daerah Pulau Ambon. Meski demikian, Penulis sekeluarga turut larut dalam suasana sukacita syukuran Hari Ulang Tahun yang undangannya diterima dalam wujud paket sekuntum bunga Mawar merah.

Tiap organisasi tak terkecuali AMGPM Cabang Imanuel OSM, tunduk pada hukum alam perkembangan yang menentukan apakah organisasi akan maju ke depan, mengalami stagnasi atau sebaliknya merangkak mundur menuju collapse. Hukum alam organisasi ini bila dimaknai sebagai proses perubahan, berjumpa dengan konsep daur hidup atau "life cycle" yang menjelaskan bahwa semua organisasi berlangsung dalam siklus hidup, dimulai dari proses kelahiran pertumbuhan, berkembang, kejayaan, dan akan terus eksis bila sanggup mempertahankan survifalitas eksistensinya. Sebaliknya bila gagal bertahan maka siklus hidup akan memerosokkan organisasi pada vase kemunduran dan akhirnya mengalami kematian.

Dalam kaitan ketahanan eksisnya menghadapi hukum daur hidup, ada tiga indikator yang bisa dibaca dari AMGPM Cabang Imanuel OSM yang hari ini bersukacita.
Kesatu; perkembangan jasmani organisasi.
Kedua; perkembangan rohani.
Ketiga; distribusi output kader ke kancah eksternal.

Expository terhadap indikator perkembangan Cabang Imanuel secara jasmaniah, dapatlah dirujuk kepada vase usia kronologis yakni ritual repetitif atas tanggal, hari, serta bulan dari peristiwa historis tahun 1985, yang melaluinya hari ini Cabang Imanuel berusia 34 tahun. Capaian tahun demi tahun inilah pertanda sambolik jalan menuju "kedewasaan". Penulis yakin usia 34 tahun belum merupakan kedewasaan puncak apalagi kedewasaan akhir sebab dalam pengalaman pelayanan Penulis, Cabang Imanuel OSM merupakan salah satu Cabang AMGPM di Daerah Pulau Ambon yang bertabur energi bertahan hidup serta selalu mampu mengambil momentum secara tepat dalam tangannya. Dari ukuran umur kronologis atau jumlah tahun hidup ini, Cabang Imanuel OSM makin mendewasa.

Indikator perkembangan kedua yang dapat digunakan mengkonstruksi penilaian atas AMGPM Cabang Imanuel, bersifat spirit serta motivasi berkembang yang diwujudkan dalam beberapa bentuk, mulai yang imanensial, transendental, hingga pada mobilitas yang berkarakter praktis taktikal.

Jadi, bila perkembangan jasmani Cabang Imanuel OSM diukur berdasarkan umur kronologis dan menandai tahap pendewasaan "kedewasaan", perkembangan rohaninya diukur berdasarkan tingkat kemampuan (Abilitas) meresponi seluruh dinamika dengan berpijak pada dan mendayakan visi, aksi serta refleksi. Pada point inilah kita menelisik tentang "kematangan" Cabang sebagai suatu kristalisasi sub-sub sistem yang dimiliki dan diorganisasikannya.

Indikator ketiga yang ada kaitannya baik langsung maupun tidak langsung dengan dua indikator sebelumnya yaitu distribusi output kader ke multi kancah.
Cabang Imanuel telah mengorbit banyak kader besar dan luar biasa yang terbukti efektif menjadi penentu pada suatu sistem atau tatanan sosial organisasi yang dimasukinya. Banyak yang bisa disebutkan oleh keluarga besar Cabang ini dengan lantang dan menegakkan kepala tapi kiranya cukup representatif menyebutkan dua nama yang saat ini terlihat di etalase eksistensi AMGPM yaitu Pdt. Max Takaria, S.Th., dan Melky Sairdekut, S.Hut. Yang disebut pertama adalah Ketua Umum Pengurus Besar AMGPM saat ini sementara yang disebut kedua adalah Wakil Ketua DPRD Provinisi Maluku saat ini, serta beberapa waktu belakangan mulai diwacanakan sebagai Calon penerus karier Pdt. Max Takaria (bakal kandidat Ketua Umum PB AMGPM periode 2020-2025).
Point penting dari indikator ketiga adalah aspek "prestasi".
Jadi dalam siklus atau daur hidupnya, AMGPM Cabang Imanuel OSM telah mencapai tiga indikator secara sangat mengagumkan. Menjadi semakin "dewasa"; memiliki kemampuan (ability atau capability) dan menjadikannya "matang"; serta, terbit sebagai Cabang AMGPM yang tak terbantahkan punya "prestasi" (Achievement).

Bila seluruh capaian dari indikator yang Penulis kemukakan di pertahankan secara konsisten, Cabang Imanuel OSM tidak akan pernah kesulitan merambah menanjak lebih tinggi lagi. Hukum psikologi organisasi memungkinkan Cabang Imanuel OSM dan Ranting-rantingnya menjadi lebih kokoh akan mempengaruhi secara positif sebanyak mungkin pemuda gereja di Jemaat GPM Imanuel OSM yang ingin terlibat.

SELAMAT ULANG TAHUN AMGPM CABANG IMANUEL OSM.

Saturday, November 16, 2019

GKP (Jemaat Dayeuhkolot) TERUS MENJADILAH MATANG YANG MENDEWASA


Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.

Semalam (14 Nopember 2019), Penulis sekeluarga berkesempatan hadir dan turut larut dalam suasana sukacita syukuran Hari Ulang Tahun Gereja Kristen Pasundan (GKP) yang ke 85.

Sukacita yang membalut dinamika "soma tou Christou" (Gereja Sebagai Tubuh Kristus) di Jemaat Dayeuhkolot ini, memancar energi ketegaran di usianya yang terus menanjak, meski dihadang dua kenyataan. Pesona dan tubuh bangunan gereja --Sukabirus yang butuh renovasi dan butuh ijin bagi eksistensinya. Gedung Gereja Jemaat GKP Dayeuhkolot memang sedang kehilangan fungsi.

Kehilangan fungsi dari senyatanya rumah "berhimpun menghadap Tuhan" untuk menyelenggarakan perayaan kebaktian Minggu karena tekanan larangan pihak-pihak tertentu, sekaligus menjadi sebab yang samar namun jelas akan pentingnya pengurusan  ijin renovasi bangunan dan jaminan optimalisasi fungsi utama gedung gereja --yang saat ini dipikul oleh Gedung Kapel Rumah Sakit Immanuel Bandung, salah satu bagian dari ruang kantor BBPP YBRS-GKP dan beberapa ruang kuliah Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIK) Immanuel Bandung.

Kenyataan yang sengaja digelisahkan secara dinamis dalam doa Pdt. Clif Kasakean (Ketua Jemaat) berharap mengguncang ujung jumbai jubah kuasa kemurahan dan mujizat Sang Ilahi.

Diatas jalan sejarah GKP dan kehidupan bergereja di jemaat Dayeuhkolot, tertera dua pilar karakter yang kokoh, yakni tentang "kematangan" dan "kedewasaan".
Usia 85 tahun ini menjadi salah satu landmark historis rohani seluruh penjaga eksistensi GKP Dayeuhkolot yang melaluinya ada penjelasan bahwa hukum alam kehidupan organisasi terus berpihak melalui perkembangan usia Gereja yang anggota-anggota jemaatnya diisi kesabaran, kesetiaan, solidaritas, serta kelembutan persekutuan yang terbuka menyambut sesama. Pada sisi yang lain, secara kelembagaan, Jemaat GKP Dayeuhkolot terus maju ke depan menembusi seluruh kemungkinan stagnasi apalagi merangkak pada kemunduran yang berakibat collapse.

Dalam pandangan Penulis, terdapat dua macam atau kategori atau kualifikasi perkembangan yang dialami organisasi-persekutuan Gereja, termasuk GKP Jemaat Dayeuhkolot. Pertama, perkembangan usia kronologis yang berkaitan dengan repetisi hari, bulan dan tahun momentual kelahiran institusi. Dan, perkembangan kedua --lebih berpenekanan manajerialistik, imanensialistik dan idealistik. Perkembangan yang meliputi kualitas daya spirit. Perkembangan ini ditandai dari Visi, praktek organisasial dan pelayanan, dinamika stuktur kelembagaan dan manajemen hingga kepemimpinan dan pertumbuhan iman kristen para umat.

Jika perkembangan tipe pertama lebih berpenekanan aspek jasmaniah, sebaliknya, tipe kedua, cenderung bersifat rohaniah dikarenakan strategis filosofis dan menyentuh sejumlah besar substansi berGereja dari dalam.

Pada konteksnya, bila perkembangan jasmani GKP dan Jemaat Dayeuhkolot diukur berdasarkan umur kronologis atau jumlah tahun hidupnya maka puncak yang kini sedang dicapainya dikategorikan sebagai tahap "kedewasaan" (Adulthood). Sebaliknya perkembangan rohani diukur berdasarkan tingkat kemampuan (Abilitas) seluruh stakeholder dan stakeowner dalam meresponi seluruh dinamika dengan menggunakan ukuran visioner, manajemen kelembagaan, keterampilan pelayanan dan dasar iman kristen yang dimilikinya. Disini bicara tentang "kematangan".

Dari pikiran sederhana diatas, Penulis berjumpa konklusi; "Jemaat GKP Dayeuhkolot adalah jemaat yang "semakin mendewasa" bersama esensi integralnya dengan GKP, sebab mampu untuk terus melangkah dalam hari-hari historis GKP. Dan, menjadi "semakin matang" meresponi pergumulan-pergumulan berGereja dan berumatnya diantara belukar hambatan kebebasan mengekspresikan tri panggilan gerejanya kesaksian (kesaksian) pelayanan (diakonia) dan persekutuannya/persatuan (koinonia).

GKP Jemaat Dayeuhkolot, teruslah tumbuh di belantara tantangan sambil menyelami wawasan beragama, bergereja dan beriman secara lebih mendalam, dan diakhir tulisan ini, Penulis ingin bernyanyi dari KIDUNG JEMAAT NOMOR 85 (KU SONGSONG BAGAIMANA) sebagai penutup.
"Kusongsong bagaimana, ya Yesus, datangMu?... Engkau Terang buana, Kau Surya hidupku!... Kiranya Kau sendiri Penyuluh jalanku,... Supaya kuyakini tujuan janjiMu.