Saturday, November 16, 2019

GKP (Jemaat Dayeuhkolot) TERUS MENJADILAH MATANG YANG MENDEWASA


Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.

Semalam (14 Nopember 2019), Penulis sekeluarga berkesempatan hadir dan turut larut dalam suasana sukacita syukuran Hari Ulang Tahun Gereja Kristen Pasundan (GKP) yang ke 85.

Sukacita yang membalut dinamika "soma tou Christou" (Gereja Sebagai Tubuh Kristus) di Jemaat Dayeuhkolot ini, memancar energi ketegaran di usianya yang terus menanjak, meski dihadang dua kenyataan. Pesona dan tubuh bangunan gereja --Sukabirus yang butuh renovasi dan butuh ijin bagi eksistensinya. Gedung Gereja Jemaat GKP Dayeuhkolot memang sedang kehilangan fungsi.

Kehilangan fungsi dari senyatanya rumah "berhimpun menghadap Tuhan" untuk menyelenggarakan perayaan kebaktian Minggu karena tekanan larangan pihak-pihak tertentu, sekaligus menjadi sebab yang samar namun jelas akan pentingnya pengurusan  ijin renovasi bangunan dan jaminan optimalisasi fungsi utama gedung gereja --yang saat ini dipikul oleh Gedung Kapel Rumah Sakit Immanuel Bandung, salah satu bagian dari ruang kantor BBPP YBRS-GKP dan beberapa ruang kuliah Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIK) Immanuel Bandung.

Kenyataan yang sengaja digelisahkan secara dinamis dalam doa Pdt. Clif Kasakean (Ketua Jemaat) berharap mengguncang ujung jumbai jubah kuasa kemurahan dan mujizat Sang Ilahi.

Diatas jalan sejarah GKP dan kehidupan bergereja di jemaat Dayeuhkolot, tertera dua pilar karakter yang kokoh, yakni tentang "kematangan" dan "kedewasaan".
Usia 85 tahun ini menjadi salah satu landmark historis rohani seluruh penjaga eksistensi GKP Dayeuhkolot yang melaluinya ada penjelasan bahwa hukum alam kehidupan organisasi terus berpihak melalui perkembangan usia Gereja yang anggota-anggota jemaatnya diisi kesabaran, kesetiaan, solidaritas, serta kelembutan persekutuan yang terbuka menyambut sesama. Pada sisi yang lain, secara kelembagaan, Jemaat GKP Dayeuhkolot terus maju ke depan menembusi seluruh kemungkinan stagnasi apalagi merangkak pada kemunduran yang berakibat collapse.

Dalam pandangan Penulis, terdapat dua macam atau kategori atau kualifikasi perkembangan yang dialami organisasi-persekutuan Gereja, termasuk GKP Jemaat Dayeuhkolot. Pertama, perkembangan usia kronologis yang berkaitan dengan repetisi hari, bulan dan tahun momentual kelahiran institusi. Dan, perkembangan kedua --lebih berpenekanan manajerialistik, imanensialistik dan idealistik. Perkembangan yang meliputi kualitas daya spirit. Perkembangan ini ditandai dari Visi, praktek organisasial dan pelayanan, dinamika stuktur kelembagaan dan manajemen hingga kepemimpinan dan pertumbuhan iman kristen para umat.

Jika perkembangan tipe pertama lebih berpenekanan aspek jasmaniah, sebaliknya, tipe kedua, cenderung bersifat rohaniah dikarenakan strategis filosofis dan menyentuh sejumlah besar substansi berGereja dari dalam.

Pada konteksnya, bila perkembangan jasmani GKP dan Jemaat Dayeuhkolot diukur berdasarkan umur kronologis atau jumlah tahun hidupnya maka puncak yang kini sedang dicapainya dikategorikan sebagai tahap "kedewasaan" (Adulthood). Sebaliknya perkembangan rohani diukur berdasarkan tingkat kemampuan (Abilitas) seluruh stakeholder dan stakeowner dalam meresponi seluruh dinamika dengan menggunakan ukuran visioner, manajemen kelembagaan, keterampilan pelayanan dan dasar iman kristen yang dimilikinya. Disini bicara tentang "kematangan".

Dari pikiran sederhana diatas, Penulis berjumpa konklusi; "Jemaat GKP Dayeuhkolot adalah jemaat yang "semakin mendewasa" bersama esensi integralnya dengan GKP, sebab mampu untuk terus melangkah dalam hari-hari historis GKP. Dan, menjadi "semakin matang" meresponi pergumulan-pergumulan berGereja dan berumatnya diantara belukar hambatan kebebasan mengekspresikan tri panggilan gerejanya kesaksian (kesaksian) pelayanan (diakonia) dan persekutuannya/persatuan (koinonia).

GKP Jemaat Dayeuhkolot, teruslah tumbuh di belantara tantangan sambil menyelami wawasan beragama, bergereja dan beriman secara lebih mendalam, dan diakhir tulisan ini, Penulis ingin bernyanyi dari KIDUNG JEMAAT NOMOR 85 (KU SONGSONG BAGAIMANA) sebagai penutup.
"Kusongsong bagaimana, ya Yesus, datangMu?... Engkau Terang buana, Kau Surya hidupku!... Kiranya Kau sendiri Penyuluh jalanku,... Supaya kuyakini tujuan janjiMu.

No comments:

Post a Comment