Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy
Pengantar.
Beberapa hari ini, Penulis intensif menerima ayat Firman (selanjutnya diistilahkan 'FirTuAll') dalam bentuk caption, serta diterima melalui WatsApp. Sebelumnya, mengapresiasi maksud baik mereka yang mengirimkan caption's dimaksud, Penulis membuat tulisan berjudul "Tentukan Sendiri Kelimpahanmu" yang dipublikasi melalui blog tertanggal 2 Oktober 2019 (alamat blog, https://hendrypasalbessy75.blogspot.com).
Antagonisme.
Kesempatan ini, Penulis menyajikan perspektif yang menyoroti fenomena "antagonisasi ayat FirTuAll", suatu representasi perilaku patologis yang ditunjukkan seseorang yang karena mentalitas sosialnya ditimpahi beban disharmoni interaksi dan relasitas resistensial berkaitan dengan orang tertentu, mencuat dalam kompensasi pemberontakan batiniah melalui jalan menggunakan ayat-ayat FirTuAll untuk menyatakan energi psikis negatifnya atau kritik ketidaksukaannya, dimana umumnya yang diserang menggunakan ayat-ayat FirTuAll itu memiliki kesamaan anutan religiusitas. Tipologi yang timbul kemudian adalah benturan antara 'das sollen' dan 'das sein' terkait eksistensi ayat-ayat FirTuAll ketika sengaja digunakan secara antagonik. Perbedaan antara apa yang seharusnya (nilai) dengan apa yang terjadi (fakta).
Framing Objektif.
Penting bagi Penulis membuat framing objektif dengan membenarkan bahwa sebagai ilham ilahi, bagian-bagian penting dari ayat-ayat FirTuAll dimaksudkan untuk "mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik umat supaya hidup pada jalan kebenaran" yang dengan demikian mengamini 2 Timotius 3:16-17. Artinya, tidaklah salah menegur sesama saudara seiman berlandaskan ayat FirTuAll, sebab itu bentuk berkarya secara rohani dan beribadah secara fungsional.
Ibadah.
Melalui narasi dan literasi berkeagamaan Kristen, kita sebagai komunitas iman dicahayai pemahaman bahwa format ibadah ada dua, Ibadah ritual dan ibadah kontekstual. Melalui pemahaman ini, terbentuk pernyataan eksistensial bahwa kontekstualitas Kristen (arah dan dinamika keagamaan) melintas melampaui sekedar hal-hal ritual semata yang mengambil wujud ibadah liturgis (kebaktian). Berkristen dengan demikian merambah aspek-aspek kehidupan praktis relasional. Penulis gunakan istilah 'ritualistik eksternal mimbar', suatu medan kehidupan dimana etika dan norma-norma kemanusiaan lain disandingkan secara ajek dengan, dan bahkan bersandar pada FirTuAll.
Penulis berpandangan, ibadah searti mempartisipasikan pikiran, hati dan tubuh untuk kemanfaatan hidup sesama dan alam semesta. Dalam pengertian yang demikian, ukuran bagi godly life (ketaatan rohani) seseorang bukan hanya di nilai dari pandangan dan perilaku dalam melakoni ritual tertentu, tetapi juga mencuat nampak dalam kehidupan sehari-hari, dan hal itu identik dengan keseluruhan aspek hidup seseorang -- pergaulan, pekerjaan, aktivitas gerejawi, kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, pendidikan, organisasi, olahraga, sel-sel konseren, dan sebagainya, termasuk interaksi sosial simbolik yang mengambil bentuk berbagi caption-caption ayat-ayat FirTuAll semua patut dikategorikan pada area dan perilaku ibadah kepada Tuhan.
Kerja Firman secara Ex Opere Operato.
Berbagi caption-ayat FirTuAll, tak ubahnya berbagi Firman dimana pada momentum itu berlangsunf transformasi suasana dan motivasi yang berujung pada proses berdisiplin rohani.
Selain dari berdisiplin secara rohani, berbagi caption ayat FirTuAll langsung ataupun tidak langsung membantu upaya pendalaman iman bukan hanya orang yang menerima tetapi terlebih dulu orang yang mengiri. Sebab, tiap orang yang meng-caption ayat FirTuAll dipastikan membacanya lebih dulu. Peristiwa ini bukan momentum yang kosong substansi. Penulis meyakini bahwa Firman Tuhan bekerja secara "Ex Opere Operato". Bahwa terinteraksi atau berinteraksi dengan ayat FirTuAll, dalam apa sekalipun wujudnya akan mendatangkan rahmat dengan sendirinya karena Firman adalah penyataan eksistensi Pribadi tak berbatas (Tuhan). Dialah yang mendatangkan rahmat.
Motiv Sebagai Penentu.
Lalu, kapan ayat-ayat FirTuAll kehilangan kesucian, kehilangan manfaat rahmat, dan kehilangan kuasa mengubah kemustahilan jadi nischaya dan hilang daya antibodi rohani, sebaliknya mengembara sebagai mantera gelap penuh kata-kata umpatan simbolik yang kehilangan mutu transendental, adalah ketika ayat-ayat itu dipakai sebagai revolver kekerasan verbalistik dan literasi kebencian.
Artinya, ayat FirTuAll sekalipun secara murni adalah baik dan berguna bagi kita, sangat terbuka mengalami fenomena penggunaan secara hipokrit dalam karakteristik monodualisnya.
Hipokrit dalam konteks membagi caption ayat FirTuAll, Penulis masksudkan sebagai ekspresi kemunafikan seseorang yang berpura-pura bertindak dalam pandangan standar/patokan moral keagamaan namun sebetulnya bukan itu yang dimaksudkannya. Ada kondisi motif dari aktualisasi perbuatan yang secara esensial berbanding terbalik dengan apa yang merupakan spirit imanen dari substansi yang dibagikan (ayat FirTuAll). Jadi, pada satu sisi tindakkan membagi Firman dilakukan sebagai pernyataan eksistensi citra keagamaan tetapi pada saat bersamaan, motiv yang paling dominan bisa sebagai kritik dan serangan verbal kepada saudara seiman karena sesuatu hal.
Penutup.
Sehubungan uraian yang disampaikan diatas, Penulis ingin menyampaikan sekaligus mengingatkan, jika kita ingin berbagi Firman Tuhan, baik dalam bentuk murni teks Firman, bentuk Picture atau dalam bentuk narasi penafsiran, kiranya hendaklah, hal itu dilakukan karena tiga hal:
1. Ingin mendisiplinkan rohani kita dalam pergaulan dengan Tuhan.
2. Ingin melakukan pendalaman iman yang kepada Tuhan.
3. Ingin selalu masuk dalam suatu pengalaman rahmat.
Jangan pernah berusaha mewujudkan keluar, ketidaksukaan atau kritik pada sesama secara simbolok dengan menggunakan ayat Firman, sebab Firman Tuhan adalah kata-kata suci yang sekali keluar, akan bekerja ex opere operato dan tidak akan pernah kembali dengan hampa.
No comments:
Post a Comment