Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.
Pagi kemarin, mengawali hari yang sibuk, Penulis diwejangi notifikasi WA masuk dari nomor +62 821-9789-3333. Kalimatnya singkat; "Tuhan Yesus Memberkati".
Jika seringnya kita menerima sapaan seperti ini (dan yang serupa), rasa-rasanya kita secara potensial mudah memasuki jebakkan preposisi deprivasi kejenuhan sebagaimana dipostulasikan George Caspar Homans, seorang pakar di bidang ilmu sosiologi behavioural, yang dalilnya "Semakin sering suatu pemberian diterima, akan semakin berkurang pula nilai pemberian tersebut" sehingga penghargaan atasnya makin terkikis. Karena itu, ada alasan dimana spontanitas sikap yang kerap kita tunjukkan yakni mengabaikannya. Pembahasan lebih jauh menyangkut pikiran Homans dalam kaitan Penulis menerima Notifikasi WA pagi kemarin dan ditempatkan pada kerangka teori pertukaran jaringan sosial kiranya dapat diurai pada kesempatan tulisan yang lain.
Selanjutnya, kembali ke pokok, terhadap kalimat yang Penulis terima tadi pagi, pilihan yang diambil adalah menyambut serta menanggapinya. Pertama karena alasan menunjukkan rasa hormat, dan selebihkan karena meresapi maknanya. Cara respon Penulis kurang lebih sama meski dengan isi kalimat yang terbilang panjang, berbuyi:
[Refleksi singkat dari Bandung]
Pribadi yang luar biasa, selalu milik orang-orang berkarakter besar yang terus menyemangati iman sesama sekalipun yang disemangati itu hanya orang-orang biasa. Lebih hebat lagi adalah apabila "dia" sendiri ternyata membutuhkan semangat untuk terus survife. Hanya orang hebat yang mampu melakukannya.
Hari ini, "Bapa De" (sapaan Penulis kepada bapak Pendeta Decky Mailoa) menolong beta menemukan suatu perspektif untuk mengisi dan menggunakan waktu-waktu yang ada secara intensional dan positif, dengan cara menabur sebanyak-banyaknya "Sapaan Berkat kepada sesama"....Tuhan Yesus Memberkati Bapa De dan seisi rumah. Amin!
Penulis tergerak hati untuk membagi sesuatu yang sekiranya dapat membantu kita semua mengkonstruksi perspektif yang baik atas prioritas hari-hari hidup yang dijalani.
Dimulai dari mencoba menghitung usia hidup Penulis dengan mengambil patokan spekulatif pada Mazmur 90:10a (Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan...) Selanjutnya diambil salah satu hari. Penulis memilih hari Minggu karena menyimpan pesona religiusitas yang lekat dengan iman Penulis, sekaligus sebagai saat dimana kebiasaan umum kita mengirim notifikasi WA atau SMS bernuansa "berkat" (untuk selanjutnya Penulis gunakan diksi "kelimpahan") kepada sesama saudara seiman. Ada 52 hari Minggu dalam setahun dikali 70 tahun sama dengan 3,640 hari Minggu.
Katakanlah, di usia Penulis sekarang 43 tahun baru terbersit kesadaran memulai, itu artinya 2,236 hari Minggu telah terbuang sia-sia tidak tergunakan membagi kelimpahan sehingga kini tersisa 1,404 hari Minggu yang bisa digunakan. Itupun bila sungguh-sungguh dan konsisten dimaksimalkan, dengan asumsi Tuhan masih akan menyediakan Penulis usia sekitar 27 tahun lagi.
Betapa telah begitu ruginya Penulis, karena kedasaran ini datang disaat waktu yang terbuang lebih banyak dibandingkan waktu tersisa.
Apakah tidak akan semakin rugi lagi jika diantara 1,404 hari Minggu yang akan dimasuki, Penulis tetap pada pola pikir dan cara pandang lama?
Lalu, apa manfaatnya membagi ucapan kelimpahan atau yang secara verbatim dituangkan ke dalam kata-kata semakna itu kepada sesama sehingga Penulis menyeriusi pembahasannya dalam hitung-hitungan waktu hidup potensial? Setidaknya ada dua hal yang bisa di share:
PERTAMA
Karena membagi ucapan-ucapan kelimpahan kepada sesama, serupa menjadikan diri kita sendiri adalah anugerah Tuhan bagi mereka. Karena itu, berfokus pada hal ini penting dan benar secara rohani, serta bermanfaat dalam kehidupan.
Jika berusaha menjadi anugerah dan sarana kelimpahan bagi sesama adalah alasan kita memprioritaskan hidup dalam masyarakat, persekutuan dan organisasi, maka membagi ucapan-ucapan kelimpahan adalah alternatif cara yang baik tatkala menghabiskan sisa waktu hidup kita dalam rangka melunasi prioritas itu.
KEDUA
Adalah istri tercinta (Pendeta Sendy Natalia), sekali waktu pernah mencerahi Penulis melalui ilustrasi; "suatu ketika, Matius dan Markus masuk momentum interaksi tiga pihak bersama dengan Tuhan. Dalam interaksi itu, Matius yang mempapasi Markus di jalan mengucapkan kata-kata berenergi positif; "Selamat Pagi, Tuhan Memberkatimu". Seketika itu, sesungguhnya terjadi suatu transformasi eksistensi spirit positif bagi kehidupan Markus, saat itulah Allah masuk dan terlibat.
Kata-kata yang diucapkan Matius, berjalan maju dengan anggun ke arah Markus untuk menjadi kelimpahannya. Bersamaan itu juga Allah mengisi kembali tabung kelimpahan milik Matius (artinya akibat berbagi Matius tidak kekurangan, malah bonusnya yaitu dipedulikan Allah).
Jika kemudian kata-kata berkat itu tidak diambil atau ditolak oleh Markus karena suatu alasan, KELIMPAHAN ITU TIDAK AKAN PERNAH JATUH KE TAHAN DAN TERBUANG sebab dia akan kembali masuk ke dalam tabung milik Matius (artinya tabung kelimpahan Matius jadi bertambah).
Kesimpulannya, berbagi kelimpahan, tidak akan membuat kita kekurangan malah berpotensi mengalami kelimpahan baru yang secara religiusitas berakumulasi.
Sebagai penutup tulisan singkat ini, mari hari ini kita mengintensifkan berbagi kelimpahan meski hanya lewat kata-kata sederhana, siapa tahu jika Tuhan berkenan membawa kita ke hari esok maka kita telah diberi sedikit waktu ekstra lagi untuk terus mengkaryakan kelimpahan secara baik dan positif. Apalagi bila esok dan esoknya lagi masih kita terima, kelimpahan akan menjadi sangat luar biasa dalam hidup kita.
John C. Maxwell (dalam The Maxwell Daily Reader) menulis, "Kita tidak bisa memilih apakah kita masih akan diberi waktu lagi tetapi kita bisa memilih apa yang kita lakukan dengan waktu itu."
TUHAN MEMBERKATI!
No comments:
Post a Comment