Thursday, February 4, 2021

PRAKATA MANTAN KETUA AMGPM DAERAH PULAU AMBON DALAM BUKU HIMPUNAN HASIL KONFERDA-XVIII

(Hendry Nofry Pasalbessy)


S’bab Tuhan baik,… Bahwasanya untuk selamanya kasih setia-Nya!
Demikian terinspirasi oleh Mazmur 52:8b, Beta letakkan dasar apresiasi atas Konferensi Daerah-XVIII AMGPM Pulau ambon yang berlangsung pada13 Desember 2020 di Cabang dan Jemaat GPM EDEN. Suatu ruas penting sirkulasi organisasi, kepemimpinan, kekritisan konseptual dan pelayanan kepada Tuhan Yesus Kepala AMGPM. 

Konferda-XVIII AMGPM DAPUA patut dibilang spesial. Menjadi spesial bukan hanya karena terjadi di ujung yang memandai titik henti berstruktur sekaligus akhir status eksisting keanggotaan biasa AMGPM Beta dan beberapa teman Pengurus Daerah periode 2015-2020, melainkan juga karena begitu elegannya lembaga ini menginstrumentasi seluruh tahapan, bahkan mampu menyiapkan pertahanan terbaik, merawat wisdom alamiah DAPUA terhadap bencana eksternal pandemik Covid-19, serta tantangan riak-riak situasional berkader. Tantangan mana mengambil rupa gejala infiltrasi dinamika tinggi yang turut mengadopsi hasrat di luar tata nilai DAPUA yang untuk beberapa saat sempat mempengaruhi keseimbangan mental sistem keorganisasian serta sensitifitas komitmen berkeluarga DAPUA, yang harus juga beta akui sebagai suatu kenyataan yang mengandung potensi DAPUA terjerembab dekadensi organisasi dan dekadensi pelayanan. Maka Konferda-XVIII dalam pandangan Beta bukan hanya spesial tetapi juga hebat pada seluruh bentang prosesnya baik proses konseptualisasi organisasi, proses sirkulasi manajerial serta kesuksesan proses kandidasi kader.

Pada dimensi proses konseptualnya, Konferda-XVIII Beta kira sudah cukup bergumul hingga menyentuh secara analitik, isu-isu strategis pergulatan pelayanan DAPUA, baik itu secara internal meliputi spiritualitas pertumbuhan rohani dan pengembangan mutu kader hingga dimensi integral yang menerobos eksistensi keseharian DAPUA secara ke luar organisasi seperti, konseren ekologis atas problematika kebencanaan, kolaborasi lintas institusi (dengan Gereja, OKP maupun OPG lain) hingga isu-isu sosial mutakhir disekitar partisipasi sosial, politik dan demokrasi. Ide-ide strategis ini pada gilirannya dapat dibaca melalui break down program operasional tahun pelayanan 2021. 
Selain dari ide-ide brilliant di atas, menurut Beta kiranya mulai perlu juga untuk memikirkan ke depan secara serius, pengupayaan dan pengembangan sarana prasana gedung kantor DAPUA guna afirmasi otonomitas penatalayanan dan optimalisasi fungsi kinerja kepengurusan secara lebih memadai.

Realitas lain yang menandai penilaian tinggi Beta terhadap Konferda-XVIII yang dikelola Pengurus Daerah periode 2015-2020 dan panitia didukung berbagai pihak, yakni, kemampuan salah satu alat kelengkapan organisasi di level Daerah ini untuk merawat dignitynya. Bahkan lebih dari itu, melalui Konferda-XVIII, DAPUA sedang berupaya menanjaki puncak terbaiknya melampaui keunikan dan keistimewaan periode-periode terdahulu --terutama periode ketika beta pimpin. Dua penanda dignity periode ini bisa ditemukan pada formasi struktur dan kepemimpinan organisasi. Bahwa di pimpin Ketua Daerah dan Sekretaris Daerah berlatar kampus sekaligus aktifis murni jemaat GPM, akan membawa arah DAPUA memasuki kemendalaman kultur belajar dan proses-proses aktual yang muaranya “spiritualitas pemuridan.”

Didukung hasil perumusan komposisi struktur pengurus daerah yang cukup konfiguratif dan merepresentasi secara proporsional sejumlah besar spektrum kondisi dan ketersediaan resources pada ranah cabang, ranting dan jemaat, Beta sungguh yakin kemampuan respon tanggap problematika organisasi dan pelayanan akan lebih koheren dan bersesuaian ke depan hingga mengarah ke tujuan, baik tujuan periodik pelayanan maupun goal attainment organisasi sebagaimana disitir Anggaran Dasar AMGPM. Sehubungan ini beta memandang dengan hormat kepada teman-teman yang memformaturi terbentuknya komposisi kepengurusan yang cukup excellent ini.

Namun di atas itu semua, (baik ide-ide cemerlang, program operasional yang substansial menjawab realitas problematik maupun postur komposisi pengurus yang luar biasa) patut kita hayati bahwa, kultur batin DAPUA paling khas sejak awal kediriannya hingga hari ini tidak lain “primaritas pelayanan” yang kemudian baru di back up penggunaan perangkat pendukung lain baik birokrasi implementasi kebijakan maupun penerapan aturan formil.
Mengapa pelayanan yang utama? Karena menghadapi penerapan aturan formil bersumber AD/ART dan kumpulan Peraturan Organisasi AMGPM yang dalam prakteknya terbukti seringkali kaku, membatasi dan menghambat, bersahut dengan seluruh keadaan dan dinamika lingkungan yang berkecenderungan dinamis, tersimpan kerawanan latent kemandekan operasional organisasi. Pada titik ini mudah sekali dimengerti bahwa yang paling dikorbankan sejatinya pelayanan. Karena itulah, DAPUA sejak awal mengambil sikap untuk lebih berpihak kepada panggilan pelayanan, artinya “pelayanan” yang adalah esensi AMGPM itu tidak boleh pernah dikompromi hingga terdeformasi oleh keadaan atau alasan apapun. Itulah sebabnya cara kita memandang seluruh hasil produk Konferda-XVIII ini seyogyanya menggunakan kacamata pelayanan dimana seluruh penggunaan kapasitas atasnya, baik kapasitas administrasi, kapasitas manajemen, kapasitas  leadership, kapasitas decicion making, kapasitas komunikasi hingga kapasitas interaksi personal dan atau institusional, patut mendahulukan cara pandang pelayanan. Sekali lagi, esensi DAPUA adalah pengarusutamaan pelayanan!

Akhirnya, sebagai epilog, terima kasih tulus untuk teman-teman sekaligus saudara-saudara yang hebat (Marthen Bokaraman, Henry Tuhusula, S. B. Warella, Zeth Mainake, Azer Buce Tuhumury, Ruddy Piter Rehatta, Chresin Marwanaya/Tahalele, Ronald Hukubun, Richard Lodar, Brury Pesulima, Rizald Picaulima, Mery Leasa, Michell Noya dan Merlin Hehuwat), dan bersama dengan mereka pula beta ingin menyadarkan secara kias bahwa; “Setiap kapal mungkin hanya akan aman ketika ada di dermaga, tetapi untuk alasan melayari keganasan samudera sambil membelah horison penuh kebaikan Tuhanlah, kapal itu diciptakan.” 
Maka nikmatilah pelayaran teman-teman semua dalam teduh tenang kasih Tuhan hingga diujung panggilan teman-teman, kita akan kembali berujar “S’bab Tuhan baik,… Bahwasanya untuk selamanya kasih setia-Nya.”
KITA SEMUA GARAM DAN TERANG BUMI.


BANDUNG, 31 Januari 2021
Hendry Nofry Pasalbessy.

No comments:

Post a Comment