SEKELUMIT MASUKAN PENGAYAAN MEMASUKI MUSKOM GMKI CABANG AMBON KOMISARIAT FISIP UNPATTI
(Oleh: Hendry N. Pasalbessy)
--------------------
*A. PENGANTAR.*
GMKI merupakan organisasi kader extra universiter berbasis tripilar (Kampus, Gereja dan bermasyarakat). Sebagai bagian dari pelaku instrumental Ilmu, Iman dan aksentuasi masyarakat (pengabdian), GMKI tampil dalam balutan sifat enerjik, sebab digerakkan pemuda pelajar (terpelajar) yang penuh dinamika, potensi dan punya semangat visioner. Semangat itu diekspresikan melalui sejumlah besar aktifitas berGMKI.
Memberi ritme pada potensi dan semangat visioner pemuda dimana disitu terjadi pembinaan kader dan berlangsungnya sistem, struktur, metode, ciri dan gaya berorganisasi maka GMKI mempraktekkan Konstitusi sebagai refleksi citra nyata institusi pemuda modern. Konstitusi, dengan demikian, menjadi barometer dan variabel penanda kehidupan GMKI sebab berisikan alasan keberadaan, motivasi dasar, pernyataan-pernyataan tentang keyakinan, prinsip-prinsip, sampai dengan pengungkapan cita-cita yang hendak dicapai dan bagaimana GMKI dioperasikan secara teknis.
Sehubungan pengoperasian organisasi itulah, kita mengenal Musyawarah Komisariat (MUSKOM).
*B. BEBERAPA POKOK PIKIRAN.*
Belajar pada Komisariat FISIP UNPATTI di belakang waktu sekarang, beta pahami bahwa tujuan MUSKOM --yang selanjutnya beta parafrasekan-- setidaknya ada dua.
PERTAMA:
Sebagai SENI PRAKTEK BERKONSTITUSI. Pada landas pemahaman ini, MUSKOM menandai forum permusyawarahan ideal Komisariat (diktum hukumnya menyebutkan "forum tertinggi di tingkat komisariat") dengan fungsi:
a). Merumuskan Garis-garis Besar Pokok Program Komisariat (atau di jaman beta dikenal GBP-KUO).
b). Menilai Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Komisariat serta memilih Pengurus Komisariat baru.
KEDUA:
Sebagai PERNYATAAN ESENSI KEHADIRAN AKTUAL & FUNGSIONAL KOMISARIAT.
Bersandar pada dimensi ini, espektasi penyelenggaraan MUSKOM dalam beta pandangan yakni agar Komisariat secara cerdas melakukan takeover gagasan yang dipandang paling sesuai untuk diadaptasikan pada kondisi komisariat. Fase berpikir konstruktifnya dimulai dari mengidentifikasi, memetakan, merumuskan kebijakan-kebijakan pelayanan yang strategis-responif sesuai dinamika kader, tantangan organisasi dan problematika aktual lingkungan eksternal. Dengan begitu, segenap sumberdaya penggerak Komisariat dapat diarahkan lebih berpengembangan.
Pertanyaannya, apa kira-kira pergumulan strategis Komisariat FISIP UNPATTI yang dalam peta pemikiran bersama menggambarkan kondisi problematik sekaligus potensi energi visioner Komisariat?
Bila memulai dari pemahaman bahwa GMKI FISIP UNPATTI adalah wujud kristalisasi konfigurasi beberapa lingkungan yang bersifat spesifik, maka katong bisa menelisik melalui dua zona besar yang jadi wilayah responnya yakni wilayah External dan wilayah Internal.
*C. WILAYAH EXTERNAL*
Menurut beta, sekelumit dari "Sosial field" eksternal GMKI FISIP UNPATTI yang perlu dieksplorasi berdasarkan identifikasi masalahnya antara lain:
* PERGURUAN TINGGI.
1. Tekanan Problem Geo-politik Kampus Terhadap Citra Utama Mahasiswa.
Beberapa waktu belakangan, kondisi geo-politik kampus mengalami tekanan fundamental sehinga eksistensi kader-kader GMKI kurang disibukkan dengan kekritisan-kekritisan produktf yang berbau diskursus keilmuan atau respon-respon terkait aktifitas sosial berkampus yang integralistik dengan sistem eksistensi kampus lainnya. Ini menyebabkan faktual GMKI kelembagaan ada tetapi kehilangan andil dalam peran-peran politik (berbasis dinamika kemahasiswaan dan kampus), peran-peran literasi keilmuan (cenderung ratorikal), hingga peran-peran substansial kemahasiswaan lainnya dalam kerangka tugas gereja incognito-nya.
2. Eksklusifitas pergaulan kader-kader. Sifat eksklusif yang terasa masih tetus menciri pada diri kader-kader GMKI patut diakui menggembosi daya penetrasinya untuk menghimpun dan mengkuantifikasi eksponen mahasiswa Kristen yang potensial diajak menjadi anggota dan kader GMKI l.
Sumbangan problematik lainnya barangkali karena kehadiran kader-kader struktural GMKI yang adalah parton sosiologis mahasiswa di kampus minim rasio kecukupan waktu untuk dapat berkomunikasi dengan mahasiswa Kristen, disamping profil kader yang kurang akomodatif terhadap penciptaan suasana ingrup dengan sesama mahasiawa Kristen.
3. Kecerdasan Mengelola Konflik.
Tumbuh dalam kultur kampus yang menyimpan potensi konfliktual yang kapanpun bisa meledak, secara alamiah membentuk mainset represif sejumlah mahasiswa.
Lebih dari itu, bila disimak secara baik, hampir pada sebagian besar momen suksesial, konflik menjadi aktivitas utama menyelesaikan problem. Sementara, mahasiswa sebagai garda terdepan konflik kurang dikenyangkan dengan metode dan teknik negosiasi serta konsensus. Kelemahan inilah yang kemudian sering berakhir dengan konflik horizontal antara mahasiswa. Padahal, jika dicermati, banyak koflik itu yang tidak berkorelasi dengan kebutuhan studi mahasiswa melainkan efek grandesain relasi birokrasi dan kuasa yang tidak terelakkan dan merembes ke Mahasiswa.
Sesungguhnya ada banyak hal lain yang bisa dibahas semisal:
-. Suasana "belajar kelas" dalam relasi dosen dan mahasiswa yang dalam prakteknya membenturkan pilihan padagogis atau andragogis.
-. Pola KKN berbasis ciri keilmuan, dan lain-lain
Namun, kiranya uraian 3 (Tiga) point diatas mewakili tumpukkan problematika Eksternal Kampus yang bisa digumuli MUSKOM.
* GEREJA.
GMKI Cabang Ambon --termasuk Komisariat FISIP UNPATTI--, secara kultural mainstream dan denominasi berbeda dengan GMKI di Cabang-cabang lain di Indonesia.
Di Cabang Ambon, kehadiran dan artikulasi GPM melalui Komisariat Teologi beserta bentangan luas seniornya menandai signifikansi ikatan sosiologis GMKI dengan GPM. Bahkan sedikitnya dalam keeratan ikatan yang terbentuk itu, GMKI Cabang Ambon dihibahi sebidang tanah untuk dibangun Sekretariat Cabang (yang sekarang kembali santer diprogres). Situasi sosiologis ini menyebabkan GMKI yang berwatak Oikumenis secara nasional, ternyata mengandung cita rasa denominasi GPM di Ambon.
Suasana ini menyebabkan hubungan-hubungan oikumenikalitas terasa kaku dalam praktek berGMKI. Kekakuan ini seyogyanya diterobos oleh Komisariat FISIP UNPATTI untuk mengembalikan ke khitah asalinya (pedoman arah bergerakkan sesuai ciri dasarnya).
Beta rasa ada banyak pilihan argumen teknis yang dapat dibreakdown dalam MUSKOM terkait hal ini.
3. MASYARAKAT.
Banyak cara bisa diambil GMKI Komisariat FISIP UNPATTI untuk terlibat aktif dalam dinamika sosial masyarakat dan berperan penting didalamnya, terutama karena sekarang, kondisi generasi muda bangsa (pemuda dan mahasiswa) berpotensi kuat (untuk tidak mengatakan terbukti sedang) mengalami pergeseran pola pikir dan budaya, berikut erosi sosial patogenik atas idealisme.
Keterlibatan aktif Komisariat itu secara kategorial, menjadi indikator penilaian kepedulian Komisariat sebagai kelembagaan dan kader kepada citra kemahasiswaannya yang adalah motor pengatur kecenderungan (trendsetter) arah peradaban masyarakat dan pembangunan bangsa.
Jika dianggap deskripsi ini terlalu abstaraktif, dapat disederhanakan dengan membayangkan pada saatnya dalam Muskom, dirumuskan kebijakkan-kebijakkan berbasis advokasi dan keterjagaan kritis Komisariat tethadap sejumlah besar problematika masyarakat, dan bagaimana dirumuskan model intervensi organisasi dengan menggunakan pendekatam keunggulan komparatif dan kompetitif berbasis keilmuan (Ilmu Sosial, Ilmu Politik, Ilmu Administrasi, Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi).
Dengan cara ini, beta yakin, Komisariat FISIP tetap stasioner menguatkan komitmennya untuk terus merelevansikan Imannya, Ilmunya dan Pengabdiannya di tengah-tengah masyarakat.
Tertib komitmen, menurut beta bisa jadi model positif para kader untuk sedikit mengurangi tekanan keinginan berpikir dan bertindak terlalu pragmatis-politis dalam arus berGMKI.
*D. WILAYAH INTERNAL*
Wilayah internal tidak lain segala sesuatu di dalam Komisariat FISIP UNPATTI yang mempengaruhi seluruh proses dialektik organisasi. Yang beta maksudkan, beberapa diantaranya:
•Sumber Daya Kader (Pengurus, Anggota aktof dan Senior)
•Finansial Komisariat.
•Struktur dan Pembagian Peran (Job Description)
•Metode aksentuasi gerak Komisariat.
• Pendayagunaan Keunggulan Komparatif keilmuan, dan lain-lain.
Terkait yang disampaikan, menurut beta, asal bisa fokus kepada Dua aspek penting yaitu Pertama: "Kaderisasi", dan; Kedua: "Membership Data Bank" saja, beberapa aspek lain bisa diatasi, langsung maupun tidak langsung.
*E. PENUTUP.*
Usulan pikiran yang beta kemukakan ini masih bisa diterjemahkan lebih teknis manakala dipandang penting oleh teman-teman Pengurus Komisariat tetpilih saat menggelar Pleno Program Komisariat di waktu mendatang selepas MUSKOM.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, beta ingin sampaikan rasa optimis sebagai senior, bahwa; lahirnya calon-calon pemimpin melalui MUSKOM GMKI FISIP UNPATTI ini akan berdampak kemajuan kuantitas dan kualitas organisasi.
MUSKOM GMKI FISIP UNPATTI pasti menjadi berkat. UT OMNES UNUM SINT et EX ABUNDANTIA CORDIS {Agar Semua Menjadi Satu dan Dalam Kepenuhan Hati Tercetus apa-apa (hal positif dan moralis) keluar}.
No comments:
Post a Comment