TOLERANSI PADA HAUS KEKRITISAN
Oleh: Hendry N. Pasalbessy
Konsep toleransi mengandung kesejajaran arti "kesediaan menyambut dan menerima perbedaan aspirasi eksistensial diantara keragaman fakta kontradiktif satu terhadap yang lain, dimana, fakta-fakta itu --sangat mungkin-- berpotensi saling menegasi."
Konsep Toleransi ini selanjutnya beta gunakan untuk mengkonstruksi konteks GMKI komisariat FISIP UNPATTI yang beberapa hari ini mendinamis akibat perdebatan antar beberapa adik pasca Muskom hingga berimplikasi beberapa Nomor WA di delete dari grup WA "GMKI_ISIP UPT".
Terbuka kemungkinan untuk menduga ada resonansi yang menjurus pada upaya delegitimasi hasil Muskom yang mencuat melalui beberapa notifikasi yang terbaca. Namun beta tegaskan posisi, TIDAK AKAN MENGADILI ITU SALAH ATAU BENAR, melainkan memandangnya dengan kaca mata sosiologi yakni" sebagai suatu fakta sosial yang berkelindan di Komisariat. Bukan juga untuk menggambarkan seakan-akan komisariat kini sedang decadent, melainkan hendak menunjukkan bahwa ada "Permainan Pikiran" dari kondisi "Haus Kekritisan" yang bisa dikelola sebagai kelimpahan berkat berGMKI.
Haus kekritisan sendiri, menjadi konsep dalam upaya membaca dan memetakan bahkan menguraikan makna persepsial sebagai penjelas karakteristik kelakuan beberapa Adik yang agresif menyerang hasil Muskom dengan intensi konflik yang kuat. Suatu kondisi psikologis yang muncul ke permukaan menjadi reaksi.
Sebagai tanggapan antagonik atas suatu hal atau fenomena yang ditengarai bagian dari status quo atau kemapanan. Disini perlu dipasangi logika bahwa jika pihak status quo atau kemapanan sedang dalam posisi yang salah maka agen-agen yang "Haus Kekritisan", cenderung menemukan pijakan benar-objektif. Dan begitu juga sebaliknya. Jadi, secara operasional, "Haus Kekritisan" adalah reaksi.
Reaksi ditunjukkan karena merasa sedang berada dalam posisi marginal terhadap kesuksesan pihak lain (Pengurus Terpilih dan kelompok pendukungnya). Suatu konsekwensi kompetisi berbasis cara pandang menang-kalah.
Mereka-mereka yang "Haus Kekritisan" ini mengembangkan mekanisme menyerang baik secara verbal, psikologis, gestur dan mekanisme lain yang dipandang efektif sebagai senjata, sekaligus hal tersebut merepresentasi upaya untuk menanggulangi keputusasaan yang berkembang dari sukarnya menanjaki panggung sukses dalam konteks kompetisi (dalam hal ini Muskom)
Jadi, apakah fenomena "Haus Kekritisan" dapat disimpulkan sebagai upaya mengganggu atau bahkan merongrong kewibawaan hasil Muskom sehingga perlu diterapkan mekanisme punishment tertentu oleh pihak Pengurus Komisariat?.
Umumnya persepsi kita dalam menilai mereka yang suka mengkritik, terdistorsi oleh emosi negatif diri kita sendiri manakala mengkonsumsi perilaku kultural atau kebiasaan cara mereka melakukan kritik. Emosi kitalah yang sebetulnya perlu kita verifikasi lebih dulu dengan menggunakan pendekatan "pekerjaan pikiran".
Dengan pekerjaan pikiran, kita akan bisa melakukan objektifikasi atas seluruh stimulator emosi yang terperangkap dalam diri kita dan psikologi berkomisariat kita.
Kalau pikiran kita mengatakan bahwa "pola-pola dan isi kritik yang disampaikan oleh beberapa adik adalah wujud kepribadian negatifis dan arogan bahkan culas', maka kita akan menanggapi mereka dengan pendekatan melawan dan menyerang balik. Entah dalam bentuk Nasehat, Kritik balik atau sebaliknya bila kita tidak ingin tersubordinat di bawah superioritas tekanan kritik yang adik-adik lancarkan maka akan mengambil posisi with drawing baik secara fisik maupun psikologis. Atau bisa juga sama sekali berdiam (inaction).
Menghapus Nomor WA beberapa adik, pada satu persepsi bisa dipandang sebagai penggunaan mekanisme menyerang tapi dengan argumentasi tertentu dapat juga diartikan sebagai usaha With drawing Pengurus Komisariat dan kelompoknya.
Sebaliknya, Kalau pikiran kita mengatakan bahwa "pola-pola dan isi kritik yang disampaikan itu bagian dari kewajaran belajar dalam keutuhan konsep MENGAJAK, MEMBINA DAN MEMPERSIAPKAN, maka kita akan menanggapi mereka dengan pendekatan yang lebih merangkul. Disini bisa diterapkan alternatif mekanisme " yielding" yang memuaskan kita tapi juga adik-adik yang "haus kritik'.
Menurut beta, adanya adik-adik yang mengkritik hasil Muskom, yang mungkin masih akan melakukannya untuk sesuatu yang kita pandang simtomatik mengganggu ketenangan berkomisariat di hari-hari esok, sesungguhnya indikasi baik betapa komisariat FISIP UNPATTI memiliki kader dengan level "Haus Kekritisan" (suatu fase transisial yang bila digenggam dengan intervensi pembinaan berpendekatan Tinggi Iman, Tinggi Ilmu dan Tinggi Pengabdian, akan dasyat membentuk kecerdasan jamak mereka) hingga kita akan memiliki kader-kader hari esok yang trendsetter dan unggul di medan pengabdian mereka.
Sementara, untuk saat yang sekarang, sering dikritik, Itu juga akan berdampak luas dan jauh memperkuat karakter kepemimpinan dan sifat toleran kita, suatu kreatifitas mental tapi juga pikiran.
Selamat berdialektika di komisariat.
UOUS et EAC
No comments:
Post a Comment