GARAM DAN TERANG DUNIA
Oleh: Hendry Nofry Pasalbessy
(Kamis, 20 Februari 2019)
"Kamu adalah garam dunia…, Kamu adalah terang dunia…
Matius 5:13a &14a
Sebagai penopang eksistensi Gereja, baik dari perspektif nilai-nilai yang tertancap, peran dan kelembagaan, hakikat insani sekaligus rohani pemuda adalah perwujudan Garam dan Terang Dunia.
Hakikat ini inheren ke dalam diri pemuda Gereja (Gereja Protestan Maluku) bukanlah sebagai efek preferensi melainkan gift from God yang sungguh-sungguh istimewa sehingga segenap diskursus tentang substansi pemuda dalam kaitan Gereja di GPM absolutely mengarah pada perwujudan menjadi Garam dan Terang dunia (bumi).
GARAM DALAM KONTEKS FISIK.
Beta pernah mendengar ada syair yang berbunyi "ibarat sayur tanpa garam". Frasa ini seolah-olah mengafirmasi urgensi fungsional garam dalam setiap masakan. Dan beta yakin satupun diantara pembaca tulisan ini tidak akan membantah bahwa senyawa kimia natrium chlorida (NaCl) itu memiliki peran ganda dalam kehidupan. Garam di satu sisi menyumbang dampak cita rasa nikmat pada kuliner, menghindari kehambaran rasa, dan di sisi lain sebagai unsur sodium, garam mutlak dibutuhkan tubuh. Antara lain karena sodium menstimulasi keterjagaan konsentrasi cairan di dalam tubuh dan juga membantu sel-sel tubuh membentuk nutrisi.
KONSEPSI DASAR TERANG
Membahas terang berti kita membahas tentang kwalitas dan kwantitas pancar cahaya, karena terang disaranai efek pencahayaan. Dalam kaitan ini, simplifikasi beta terhadap gagasan mendalam Planck tentang paket-paket kecil kuanta dan oleh Einstein di bangun teori baru dalam ilmu fisika yang disebut teori Kuantum, menurut beta, cahaya terwujud karena peristiwa energi spesifik emisikasi yang dilempar secara eksternal memasuki ruang yang bersifat objektif oleh suatu sumber cahaya.Peristiwa cahaya (terang) berlangsung dipengaruhi dan ditandai oleh syarat dan sifat. Secara optis, pancaran terang suatu objek menjadi ukuran jumlah cahaya yang dipancarkannya. Karena itu, kita bisa membedakan daya pancar terang dari dua objek penerang yang berbeda, misalnya Matahari berbanding bulan atau bintang; atau cahaya lilin berbanding lampu traffic light.Kapasitas optimum cahaya juga dipengaruhi suhu yang berlangsung baik yang menghalangi perjalanan cahaya maupun medium sasaran cahaya.Selain itu, secara spektroskopik, cahaya tidak bersifat tunggal sebab dapat menyebar dengan pecahan spektrum yang berkomposi multi jamak.
PEMUDA GEREJA DALAM PERSONIFIKASI GARAM &TERANG.
Secara sombolis, personifikasi garam dan terang ingin menegaskan komitmen
pilihan hidup sebagai Anggota AMGPM yang sejati dalam kumpulan Pemuda GPM yang sejati dan didalam keutuhan Pemuda Kristen yang sejati.
Bahwa untuk dapat memberi cita rasa, garam haruslah berkualitas. Jika garam menjadi tawar tidak ada lagi gunanya selain akan dibuang dan diinjak-injak orang. Garam akan berfungsi dengan benar apabila dicampurkan atau dituang pada masakan. Apalah artinya mempunyai garam di dapur apabila garam tersebut tetap kita simpan di dalam plastik atau botol. Tidak ada gunanya! Begitu pula, kita, anggota AMGPM dalam kumpulan Pemuda Gereja, akan menjadi 'garam' bagi dunia ini apabila kita menempatkan diri sebagai pelaku dalam makna garam yang mengawetkan.
Kita dipanggil dalam tantangan untuk melayani sebagai pengawet, menghadang dan menghentikan derasnya arus kerusakan moral dan iman umat seiring perkembangan lingkungan yang semakin hari semakin menuju jurang sekuler dan profan. Kondisi-kondisi ini tampil dalam wujud kegandrungan Pemuda dan umat pada perilaku anti sosial dan amoral (tawuran pemuda antar wilayah, budaya kekerasan, balapan liar, MIRAS, Judi, Seks bebas, terikat dan mengkultuskan teknologi) dan perilaku-perilaku lain mengakibatkan kemerosotan sisi Iman Kristen (malas beribadah, malas baca Firman Tuhan, terpapar menstream atau ideologi radikal sekuler yang menggugat eksistensi ketuhanan Tuhan dan Agama, dan lain-lain). Karena itu, menjaga dan mempertahankan garam tetap asin sebagai pengawet yang menghambat "kuasa dunia/lingkungan negatif", amatlah penting. Dalam hubungan dengan hal disebutkan sebagai potensi aktifitas penginjilan dan pemuridan maka kita harus siap dan mau membaur dan membangun hubungan dengan orang lain.
Memiliki hubungan yang dekat, menjadi teman dan sahabat bagi orang lain adalah awal sebuah pengaruh (menggarami).
Jika kita belajar pada keteladanan yang Yesus ajarkan dan tunjukkan, maka kita mengerti bahwa membangun hubungan dengan orang lain adalah hal yang sangat penting. Yesus berteman dengan semua orang, melayani mereka tanpa memandang bulu: Nelayan, Pemungut cukai, bahkan Pelacur sekalipun. Ketika ahli-ahli Taurat dan Orang Farisi menjauhi dan memusuhi orang-orang berdosa Yesus justru sangat dekat dengan mereka, sehingga orang-orang seringkali menyebut-Nya sebagai "...sahabat pemungut cukai dan orang berdosa."(Lukas 7:34), meski Ia sendiri tidak berbuat dosa.
Kehadiran Tuhan Yesus di tengah-tengah dunia menghadirkan personifikasi Terang, yang harus pula kita teladani setelah kita sendiri telah mampu mempedomani pemahaman, cara hidup dan sikap rohani yang tergarami.
Jika hal itu terjadi maka kitalah Pemuda Gereja dengan 'cita rasa' berbeda karena kita mampu menjadi berkat kapan pun dan di mana pun berada.
PENUTUP
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi kita semua di AMGPM di Daerah Pulau Ambon, 17 Cabang dan 100 Ranting.
No comments:
Post a Comment